0

Desa Trunyan, desa yang berada di daerah Kintamani, Bali ini memiliki tradisi pemakaman yang bisa dibilang unik, yaitu orang-orang di desa ini yang meninggal akan dikuburkan secara terbuka di bawah pohon dan diletakkan begitu saja di atas tanah.

Nah selain itu, terdapat juga fakta-fakta lainnya seputar Desa Trunyan dan tradisi pemakaman uniknya ini, lho! Berikut fakta-fakta tersebut:

"Trunyan" Memang Nama Sebuah Pemakaman"

Bukan hanya nama sebuah desa, Trunyan juga memang nama sebuah pemakaman di Desa Trunyan. Di Kuburan Trunyan ini, mayat yang meninggal dibiarkan saja tergeletak di atas tanah, sedangkan anggota keluarganya cukup memberikan pagar dari bambu dan sesaji di samping jenazah tersebut.

Mayat yang Dimakamkan di sini Tidak Berbau Busuk
Secara logika, jenazah yang dikuburkan secara terbuka dan diletakkan begitu saja, pasti lama-lama akan membusuk dan mengeluarkan bau yang sangat tidak sedap, tapi berbeda dengan yang ada dikuburkan di Trunyan, sama sekali tidak mengeluarkan bau busuk.
Kenapa? Hal ini terjadi karena jenazah tersebut diletakkan di antara pohon Taru Menyan. Taru berarti pohon dan Menyan berarti harum. Masyarakat setempat percaya bahwa aroma yang keluar dari pohon taru menyan inilah yang dapat menetralisir udara di sekitarnya, sehingga bau busuk pun tak ada, walaupun belum ada penelitian yang bisa mengungkap bagaimana pohon ini bisa menyerap bau busuk mayat manusia yang dimakamkan di sini.

Pohon Taru Menyan Diperkirakan Berusia Ribuan Tahun
Ternyata, pohon taru menyan diperkirakan sudah berusia ribuan tahun, dan ukuran pohon tersebut tidak banyak mengalami perubahan.

Berdasarkan cerita penduduk setempat, dulu penduduk desa tersebut tiba-tiba dihampiri kebingungan karena munculnya bau harum menyengat di seluruh desa, bahkan saking menyengatnya banyak penduduk yang mengalami pilek.

Setelah ditelusuri, ternyata, bau harum menyengat tersebut berasal dari sebuah pohon besar, kemudian supaya bau harum menyengat tersebut tidak menganggu penduduk desa lagi, maka diputuskan tempat tersebut dijadikan tempat pemakaman.

Pohon yang mengeluarkan aroma khas yang kuat tersebut hanya dapat tumbuh di daerah ini, meskipun telah dicoba ditanam di daerah lain. Keunikan pohon ini agaknya telah menjadi cikal bakal nama desa Trunyan.

Ada Syaratnya Agar Bisa Dimakamkan di sini
Penduduk setempat memiliki ketentuan dan syarat tersendiri dalam hal pemakaman tersebut. Salah satunya yaitu jumlah jenazah di atas tanah yang dekat dengan pohon Trunyan tersebut tidak boleh lebih dari sebelas jenazah. Hal tersebut sudah diatur oleh kepercaan adat setempat. Tetapi ada yang mengatakan bahwa satu pohon taru menyan hanya bisa menetralisir sebelas jenazah, jadi jika lebih dari itu maka jenazah tersebut akan mengeluarkan bau.

Selain itu, jenazah yang bisa dimakamkan di bawah pohon taru menyan adalah mereka yang meninggal secara wajar saja dan pernah menikah. Untuk jenazah yang sudah menjadi tulang belulang akan dikumpulkan dengan yang lainnya di dekat akar pohon tersebut, agar tempatnya bisa digunakan untuk jenazah baru. Keunikan lainnya, jenazah tersebut akan ditutupi dengan “Ancak” yaitu sebuah kurungan bambu. Tempat pemakaman untuk mereka yang meninggal secara wajar ini disebut Sema Wayah.

“Sema Bantas,” Tempat Pemakaman untuk Mereka yang Meninggal Tidak Wajar

Cara meninggal tidak wajar itu misalnya seperti kecelakaan, bunuh diri atau dibunuh orang. Nah, mayatnya tidak diperbolehkan dimakamkan dekat pohon Trunyan, ada tempat lain yang bernama Sema Bantas khusus untuk mereka yang meninggal secara tidak wajar.

Ada Juga “Sema Muda” Tempat Pemakaman untuk Bayi atau Anak-Anak

Selain Sema Bantas, ada juga Sema Muda, yaitu tempat pemakaman untuk mereka yang masih bayi atau anak-anak serta warga yang sudah besar dan dewasa tapi belum menikah. Tempat-tempat pemakaman ini sudah dibedakan sesuai dengan kaidah yang berlaku di Desa Trunyan.


Posting Komentar

 
Top